New Post

Rss

Tampilkan postingan dengan label Kasus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasus. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Juni 2014
Jadi Hacker karena pelarian?

Jadi Hacker karena pelarian?


DBR dan ABR, sepasang bocah kembar asal Ponorogo yang disidang karena meretas situs PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) ternyata memiliki kisah pilu dalam kesehariannya. Kedu remaja ini ternyata jadi 'korban' bully oleh teman sebayanya.
Pembawaan DBR dan ABR ini sejak kecil memang tertutup. Sejak SD, remaja kelahiran Oktober 1994 ini cenderung kurang bersosialisasi dengan teman sebayanya karena setiap bergaul, keduanya sering dibully.
Karena itu, keduanya tak pernah lama bersekolah di satu tempat. Pasangan kembar asal Dusun Ploso Jenar, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur ini kerap pindah sekolah.
"Sejak mereka di SD, DBR dan ABR sudah di bully teman-temannya jadi sampai pindah-pindah sekolah," kata pengacara DBR dan ABR, Mohammad Pradhipta Erfandhiarta SH.
Pengacara dari kantor Pengacara Ernawati SH, MH and Friends ini menceritakan, keseharian kliennya ini  di rumah nyaris tak ada teman. Hanya komputer yang setia mereka ajak berkomunikasi. Keduanya sangat jarang keluar rumah, kecuali salat berjamaah ke Masjid sekitar rumahnya.
"Keduanya nyaris gak pernah keluar rumah kecuali ke Masjid. Tidak pernah main sama anak sebayanya di lingkungan. Mainnya ya cuma sama komputer," kata Pradhipta kepada Tribunnews.com.
Melihat gejala anaknya, orangtua DBR dan ABR sempat dibawa ke psikiater di Malang. Hasil diagnosa medis menyebutkan, anak ini tergolong anak yang memerlukan penanganan khusus.
Seperti dilansir Tribunews.com, sepasang bocah kembar asal  Dusun Ploso Jenar, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupatem Ponorogo Jawa Timur dilaporkan karena membobol situs PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Dua bocah tersebut tengah menghadapi sidang di Pengadilan Negeri setempat.
Keduanya mulai masuk ke sistem PANDI sekitar 2010 silam. Sejak itulah, bocah kembar ini mulai meretas situs penyedia jasa registry domain .id ini.
Sekitar setahun kemudian, pengelola PANDI menyadari sistem keamanannya  rusak. PANDI pun melaporkan 'Hacker' ini. Setelah melalui proses penyelidikan, baru 2013 silam, DBR dan ABR disidang di Pengadilan Negeri Ponorogo dengan nomor perkara 395/ Pid. Sus/ 2013/ PN. PO.
Oleh Majelis hakim (yang semula diketuai Muslim SH kemudian diganti Putu Gede Novyrta, SH, Mhum), didakwa 8 januari 2014 silam. Hakim memberikan dakwaan: Primair pasal 48 (1) jo pasal 32 (1) uu no.11/2008 tentang iiformasi dan transaksi elektronik jo pasal 55 (1) KUHP, Subsidair 46(1) jo pasal 30(1) uu 11/2008 jo psl 55 KUHP.
DBR dan saudara kembarnya ABR memakai cara yang cukup sederhana. Mereka hanya memanfaatkan fasilitas gratisan dari browser mozilla firefox.
Heboh Hacker Kembar asal Ponorogo DBR dan ABR Bobol Situs PANDI

Heboh Hacker Kembar asal Ponorogo DBR dan ABR Bobol Situs PANDI


Di satu sisi, pembobolan yang dilakukan hacker kembar asal Ponorogo inisial  DBR dan ABR disesalkan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI). Namun di sisi lain, PANDI juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pelaku.

Pasalnya, seperti disampaikan Ketua PANDI Bidang Sosialisasi dan Komunikasi, Sigit Widodo, di balik aksi ini ada hikmah yang bisa diambil. Yakni PANDI sadar bahwa sistemnya punya banyak bug (celah keamanan) yang bisa dieksploitasi.

Alhasil, tindakan pencegahan pun langsung dilakukan dengan merombak total sistem yang dimilik PANDI. Tentu mereka tak mau jika ke depannya bakal kembali jadi bulan-bulanan dedemit maya.

"Jadi sebenarnya kami juga ingin berterima kasih (kepada pelaku) karena membuktikan sistem kami tidak secure (aman). Sehingga kami mengubah total sistemnya dengan standar baru," kata Sigit kepada detikINET, Rabu (23/4/2014).

Kasus pembobolan sistem PANDI sendiri terjadi pada tahun 2010. Saat itu, hacker remaja yang kembar berinisial DBR dan ABR berhasil menyusup.

Hanya saja, proses kasus ini begitu lambat sampai proses persidangan baru dilakukan pada tahun 2014, dan sampai saat ini masih belum selesai.

"Kami (PANDI-red,) inginnya cepet selesai dan kami pun selalu datang ke pengadilan di Ponorogo untuk memberikan kesaksian. Kami berharap, mereka (pelaku) tidak dihukum dengan hukuman penjara. Lebih ke hukuman yang sifatnya mendidik," Sigit menandaskan.
"Dirangkul saja, difasilitasi. Penghargaan tak harus bicara uang. Banyak cara sebenarnya untuk merangkul mereka bisa diundang dalam suatu acara, diberi rewardkarena telah menemukan bug, beasiswa atau apa lah," saran Donny.

"Jadi pengakuan bukan karena perilakunya, tapi kemampuannya. Kalau soal perilakunya, dengan adanya proses hukum dia akan kapok sendiri," pungkasnya.

Sementara Wakil Ketua Internet Security Incident Responses Team on Internet Infrastrcuture (ID-SIRTII) M. Salahuddien, lebih memilih bersikap tegas terhadap para peretas muda Tanah Air.

"Ada pandangan keliru soal itu. Seharusnya undang-undang tak pandang bulu. Kenapa? Biar jadi efek jera sekaligus hacker yang berniat membobol sistem urung melakukan. Kasus ini kan bukan sekali dua kali, jadi seharusnya para hacker jahat itu tahu," kata pria yang biasa disapa Didin Pataka itu kepadadetikINET, Rabu (23/4/2014).

Soal hacker remaja yang sudah merusak sistem keamanan pun, Didin dia tak setuju jika langsung direkrut pemerintah. Sebab di Indonesia sudah banyak remaja yang belajar dan punya niat baik untuk ilmu security.

"Jadi kalau ada remaja Indonesia yang baik, kenapa harus merangkul yang jahat dahulu?" katanya mempertanyakan.

Pemerintah dianggapnya tidak kurang memfasilitasi kebutuhan bagi remaja dengan kemampuan seperti ini. Sehingga sudah seharusnya tak dilihat lagi sebagai hacker remaja atau tidak.

"Mau berapa pun usianya. Kalau dia merusak sistem, ya artinya dia memang niat untuk melakukan perbuatan jahat," tutup Didin.
Kilas Balik Perang Hacker Indonesia vs Australia

Kilas Balik Perang Hacker Indonesia vs Australia


Anda pasti masih ingat dengan tragedi peperangan antara para prajurit cyber Indonesia dengan Australia sepanjang bulan November 2013. Kala itu saling serang antar-website tak bisa dihindari sehingga membuat hubungan kedua negara terkesan tak lagi harmonis.

Perang cyber itu diduga timbul karena isu penyadapan yang dilakukan badan intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sejumlah menterinya pada tahun 2009. Informasi ini terungkap dari dokumen yang dibocorkan oleh mantan pegawai National Security Agency (NSA), Edward Snowden.

Dalam bocoran dokumen itu disebutkan bahwa agen mata-mata Australia membidik Presiden SBY beserta istrinya, Wakil Presiden Boediono, dan beberapa menteri lainnya sebagai target pemantauan. Bocoran itu juga membeberkan model handset yang digunakan oleh masing-masing target, termasuk diagram `voice event` dari Presiden SBY.

Ratusan Situs Australia Diserang
Kabar itu pun memicu beragam reaksi. Kementerian Luar Negeri Indonesia langsung memanggil duta besar Autralia untuk dimintai keterangan terkait isu spionase (mata-mata) tersebut. Bahkan, Presiden SBY sempat mengungkapkan kekecewaannya dan memberikan reaksi keras.

Tak ingin tinggal diam, hacktivist asal Indonesia yang menyebut dirinya sebagai Anonymous Indonesia mengumumkan daftar ratusan situs Australia yang diklaim telah berhasil mereka bajak. Serangan ini diduga dilakukan sebagai aksi protes atas tuduhan spionase yang dilakukan pihak Kedubes Australia di sejumlah negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kebanyakan situs yang menjadi korban peretasan adalah situs iklan dan bisnis kelas bawah yang tak terlalu populer di Australia, yang diperkirakan dipilih secara acak. Tak berhenti sampai di situ, Anonymous Indonesia juga melakukan serangan lanjutan yang diberi sandi perang #OpAustralia (Operation Australia).

Serangan ini kabarnya dibantu oleh kubu Anonymous Australia yang juga mengecam tindakan spionase. Mereka pulalah yang kabarnya menggagas #OpAustralia dengan tujuan agar serangan cyber lebih terfokus pada situs-situs pemerintahan Australia, bukan situs milik sipil yang tak bersalah.

Sasaran utama dari serangan hacker Indonesia pun difokuskan pada pengambilalihan situs Badan Intelijen Autralia yaitu www.asio.gov.au. Situs tersebut pun sempat dibuat down untuk beberapa saat oleh kelompok Anonymous Indonesia.

Diadu Domba Hacker Malaysia?
Setelah itu jagat media sosial juga diramaikan dengan ajakan memulai gerakan #OpMalaysia (Operation Malaysia). Gerakan itu bermunculan di timeline Twitter dan Facebook setelah beredar kabar bahwa para hacker Malaysia adalah dalang utama perseteruan antara kelompok Anonymous Indonesia dan Australia.

Mereka dinilai telah mengadu domba kedua belah pihak. Sebelumnya dikabarkan bahwa situs Angkasa Pura dan Garuda Indonesia sempat diretas dan kehilangan sejumlah data penting perusahaan. Dilaporkan bahwa pihak Anonymous Australia-lah yang bertanggung atas serangan tersebut.

Namun belakangan muncul rumor yang menyebutkan bahwa para hacker asal Malaysia yang menjadi dalang peretasan dua situs penting transportasi udara Indonesia tersebut. Laman Hacker News bahkan mempublikasikan video pernyataan resmi pihak Anonymous Australia yang dengan tegas menyatakan bahwa pelaku serangan cyber ke Indonesia bukanlah pihak mereka.

Situs Indonesia Diancam
Perang cyber antar hacker Indonesia dan Australia pun semakin memanas. Hal ini diperkeruh dengan munculnya sebuah video di Youtube yang berisi ancaman. Dalam video itu Anonymous Australia mengungkapkan pernyataan perang cyber dan mengancam akan mengobrak-ngabrik beberapa situs ternama Indonesia.

"Hi, Anonymous Indonesia, be prepared. Because your stupid actions, Anonymous Australia, has therefore decided that your country should be destroyed," tulis Anonymous Australia dalam video berdurasi 1 menit 4 detik itu. Dalam video tersebut mereka mengancam akan meretas beberapa portal pemerintah dan perusahaan swasta di Indonesia.

Beberapa yang akan menjadi sasaran adalah situs www.indonesia.go.id, www.kpk.go.id, www.garuda-indonesia.com, dan www.polri.go.id. Portal media online kenamaan juga turut menjadi sasaran, seperti situs www.detik.com, www.viva.co.id, www.kaskus.co.id, dan beberapa situs lainnya
hacker Indonesia hajar ratusan situs Israel

hacker Indonesia hajar ratusan situs Israel


Hacker Indonesia kembali beraksi. Namun, kali ini sasaran serangannya bukanlah Australia, melainkan Israel.

Pantauan merdeka.com (21/12), sejak semalam kemarin atau Jumat 20 Desember 2013, para hacker Indonesia yang berkumpul lewat laman Facebook bernama GAZA SOLIDARITY secara kompak menyerbu ratusan situs milik Israel. Aksi ini dilakukan sebagai upaya solidaritas menentang kekejaman Israel di Tepi Barat.

"Apapun usaha anda untuk kepedulian terhadap Gaza adalah nilai moral dan kemanusiaan yang tinggi. Mari jebol server2 zionis, mari kita serang kepentingan2 zionis di dunia internet ini. Bila anda berhasil masuk ke system admin website2 milik zionis maka jangan ragu untuk menghancurkannya," sebut sebuah tulisan di laman Facebook tersebut.

hacker

Hingga kini sendiri berbagai serangan secara sporadis dilakukan oleh hacker Indonesia. Tercatat, banyak situs dengan domain .il yang menunjukkan CC-TLD dari Israel berkali-kali diserang oleh hacker Indonesia.

Pola serangannya pun bermacam-macam, ada yang mengganti muka depan situs dengan cara deface, ada pula yang mencoba menjebol servernya dengan DDoS.

Situs pemerintah milik Israel sendiri juga tidak luput dari serangan. Tercatat, situs Presiden Shimon Peres, bank sentral Israel, juga militer Israel tidak luput dari serangan tersebut.

Meski begitu, hasil serangan hingga pagi ini terpantau hanya terlihat di situs milik publik saja. Sementara situs pemerintahan Israel terpantau aman.
Hacker Indonesia Lumpuhkan Situs Polisi Australia

Hacker Indonesia Lumpuhkan Situs Polisi Australia


Perang siber antara Indonesia dan Australia kembali berlanjut dan semakin memanas. Sejumlah situs pemerintah Australia rontok diduga karena serangan peretas Indonesia. Hingga Kamis, 21 November 2013, situs polisi federal australia (http://www.afp.gov.au/) lumpuh oleh peretas yang tergabung dalam Indonesia Security Down Team.

Tak hanya polisi federal, peretas Indonesia juga sempat menumbangkan http://www.rba.gov.au/. Seperti dikutip ABC, kedua institusi ini telah membenarkan server-nya jebol. Situs polisi federal rontok pada Rabu, 20 November 2013 pukul 10 malam, sedangkan bank sentral jam 2 dinihari tadi. Namun, situs milik bank sentral Australia ini telah pulih.

Serangan peretas ke situs polisi federal menggunakan metode distributed denial of service (DDOS). Penyerangan dengan metode DDOS berbeda defacing yang masuk ke server dan mengubah tampilan. DDOS merupakan serangan ke server dengan mengirim "paket" secara bersamaan sehingga server tak bisa menampungnya dan akhirnya rontok.

Peretas Indonesia mengincar sejumlah situs dengan tagar #OpAustralia. Serangan gelombang pertama peretas Indonesia dianggap "salah sasaran" karena menyerang secara acak. Dalam serangan itu, situs beberapa organisasi kemasyarakatan di Australia diduga lumpuh.

Peretas Australia pun tak tinggal diam. Mereka telah melumpuhkan situs Polri. (Lihat: Situs Polri Diretas). Anonymous Australia juga menyerang sejumlah situs seperti Garuda Indonesia.

Skandal penyadapan Australia terhadap sejumlah pejabat Indonesia ini terkuak kepada publik setelah Guardian, ABC, dan Sidney Morning Herald pada Senin lalu melansir berita bahwa Australian Signal Directorate menyadap percakapan telepon SBY. Informasi ini berdasarkan dokumen yang dibocorkan mantan analis badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), Edward Snowden. SBY menghentikan kerja sama keamanan dengan Australia. Hubungan kedua negara memang mengalami pasang-surut.
Kekuatan Hacker Indonesia-Australia 5 Berbanding 1

Kekuatan Hacker Indonesia-Australia 5 Berbanding 1


Ketegangan hubungan antara Indonesia dan Australia beberapa hari terakhir bukan saja terjadi di dunia nyata, namun ketegangan ini juga merambah ke dunia maya. Penyadapan komunikasi presiden dan beberapa pejabat tinggi negara oleh Australia menggugah rasa nasionalisme para peretas Indonesia.

Pakar cyber crime yang tergabung dalam Forum Akademisi IT (FAIT), Edy Winarno, mengatakan peretasan yang dilakukan oleh hacker Indonesia masih sebatas wajar karena tidak mengganggu dan tidak merusak data yang terdapat di server.

Terlebih, apa yang dilakukan peretas Indonesia semata-mata hanya ingin menyampaikan pesan kepada Australia bahwa harga diri bangsa dan negara Indonesia tidak bisa ditawar-tawar, berdaulat dan mampu berdiri tanpa bantuan dari Negeri Kanguru itu.

Hanya saja, menurut Ketua DPW FAIT Kalsel, M. Syaukani, cara-cara yang digunakan seharusnya para hacker Indonesia tetap memegang hacking ethics, sehingga situs-situs sosial seperti rumah sakit, pendidikan dan lembaga-lembaga sosial lainnya tidak ikut diserang.

“Hacker itu punya etika dan harus selalu dijaga. Jangan menyerang situs-situs sosial. Sekalipun kepala panas, tetapi kedepankan hati nurani,” kata M. Syaukani melalui keterangan kepada Okezone, Jumat (22/11/2013).

Diakui Syaukani bahwa jumlah hacker Indonesia relatif banyak dengan kemampuan di atas rata-rata. Jadi apabila terjadi perang cyber seperti yang didengungkan hacker Australia, dia meyakini jumlah kekuatan hacker Indonesia - Australia akan berbanding 5 : 1.

“Berdasarkan pengamatan FAIT, komunitas hacker Indonesia bertumbuh bukan hanya di kota-kota besar saja, tetapi hingga ke kota-kota kecil. Mereka juga piawai menggunakan teknik-teknik tinggi untuk meretas website,” tegas M. Syaukani.

“Jadi jika perang cyber terjadi,  tentunya nasionalisme semua hacker Indonesia akan terusik dan akan mengakibatkan saling serang di antara hacker kedua Negara. Jumlah yang besar akan menguntungkan hacker Indonesia,” jelasnya lagi.
Hacker Kembar Ponorogo bobol PANDI

Hacker Kembar Ponorogo bobol PANDI


Pasrah dan tenang, itulah yang ditunjukkan ABR dan BR, sepasang bocah kembar pembobol situs PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) ketika menghadapi sidang.
Padahal, bocah asal Ponorogo Jawa Timur ini terancam hukuman yang cukup berat. Karena tindakannya meretas situs PANDI, si kembar didakwa dengan dakwaan Primair pasal 48 (1) jo pasal 32 (1) uu no.11/2008 tentang informasi dan transaksi elektronik jo pasal 55 (1) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 8 tahun penjara dengan denda maksimal,
Rp2 miliar. Juga dakwaan subsidair 46(1) jo pasal 30(1) uu 11/2008 jo pasal 55 KUHP dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp600 juta.
Di hadapan Majelis hakim (yang semula diketuai Muslim SH kemudian diganti Putu Gede Novyrta, SH, Mhum) keduanya terlihat tenang.
"Awalnya mungkin  sempat berontak. Tapi, hakimnya baik-baik, mereka  memberikan pendekatan rohani meyakinkan kalau anak saya tak perlu takut menghadapi sidang. Sekarang mereka tenang," kata Didik, ayah dari dua anak kembar ini.
Didik mengatakan semakin hari anak-anaknya semakin tenang menjalani sidang. Upaya terapi rohani yang dijalani ABR dan DBR membawa kesejukan sehingga ketika mereka menghadapi persidangan pasrah.
"Anak-anak saya kalau di sidang itu tenang. Mereka pasrah saja. Ini hasil mereka semakin rajin salat dan berpuasa," kata Ddik kepada Tribunnews.com.
Dua buah hatinya ini kata Didik punya keyakinan, kalau ini adalah episode yang memang harus mereka jalani.
DBR dan ABR ini justru menenangkan orangtuanya, bahwa mereka tidak akan menghadapi apa-apa.
"Anak saya mengatakan kalau Allah Maha Adil, mereka yakin tidak akan terjadi apa-apa. Saat ini memang kedua anak saya ini merasa harus menjalani proses persidangan ini," jelas Didik dengan suara pelan.
ABR dan DBR adalah bocah kembar asal Ponorogo yang disidang karena meretas situs PANDI. Keduanya mulai masuk ke sistem PANDI sekitar 2010 silam. Sejak itulah, bocah kembar ini mulai meretas situs penyedia jasa registry domain .id ini.
Sekitar setahun kemudian, pengelola PANDI menyadari sistem keamanannya  rusak. PANDI pun melaporkan 'Hacker' ini. Setelah melalui proses penyelidikan, baru 2013 silam, DBR dan ABR disidang di Pengadilan Negeri Ponorogo dengan nomor perkara 395/ Pid. Sus/ 2013/ PN. PO.
DBR dan saudara kembarnya ABR memakai cara yang cukup sederhana. Mereka hanya memanfaatkan fasilitas gratisan dari browser mozilla firefox
Keduanya ternyata memiliki kisah pilu dalam kesehariannya. Mereka jadi 'korban' bully oleh teman sebayanya.
Pembawaan DBR dan ABR ini sejak kecil memang tertutup. Sejak SD, remaja kelahiran Oktober 1994 ini cenderung kurang bersosialisasi dengan teman sebayanya karena setiap bergaul, keduanya sering dibully.
Karena itu, keduanya tak pernah lama bersekolah di satu tempat. Pasangan kembar asal Dusun Ploso Jenar, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur ini kerap pindah sekolah.DBR dan ABR ini saat ini tidak menempuh di pendidikan formal. Keduanya baru saja menyelesaikan Ujian Nasional di pendidikan informal Kejar Paket C.
Pengacara dari kantor Pengacara Ernawati SH, MH and Friends ini menceritakan, keseharian kliennya ini  di rumah nyaris tak ada teman. Hanya komputer yang setia mereka ajak berkomunikasi. Keduanya sangat jarang keluar rumah, kecuali salat berjamaah ke Masjid sekitar rumahnya.
Contoh Kasus Cyber Espionage II

Contoh Kasus Cyber Espionage II



  1. Wiper pada april 2012 telah dilaporkan malware yan menyerang komputer di departement perminyakan iran dan beberapa perusahaan lain, kasperski lab menyebut virus ini sebagai “wiper”. Virus ini menghapus data pada harddisk terutama file dengan ekstensi *.pnf. Ekstensi *.pnf diketahui sebagai extensi file yang digunakan oleh malware stuxnet dan duqu. Dengan dihapusnya extensi file *.pnf maka akan menyulitkan investigator untuk mencari sampel infeksi virus tersebut.
  2. Shamoon Ditemukan pada awal agustus 2012, shamoon menyerang komputer dengan os windows dan didesain untuk espionage (mata-mata). Shamoon pada awalnya sering dikira “wiper”, namun ternyata shamoon adalah tiruan dari wiper yang mempunyai target perusahaan minyak. Shamoon sepertinya dibuat oleh perorangan dan tidak dibuat seperti stuxnet yang melibatkan negara AS-israel. Hal ini terlihat dari banyaknys error pada source code. Ada spekulasi bahwa shamoon menginfeksi jaringan Saudi Aramco. Shamoon diprogram untuk menghapus file kemudian menggantinya dengan gambar bendera amerika yang terbakar, dan juga untuk mencuri data.
  3. Kasus Uncovvered Pada hari Rabu, 3 Agustus perusahaan keamanan komputer McAfee, Inc, menerbitkan sebuah laporan 14-halaman merinci operasi hacker terbesar digali sampai saat ini.


  • Dijuluki "RAT Operasi Shady" (Remote Access-Tool, sebuah program yang memungkinkan pengguna untuk mengakses jaringan jauh) oleh Dmitri Alperovitch, wakil presiden McAfee penelitian ancaman, ini rentetan serangan melibatkan lebih dari 70 organisasi internasional, termasuk dua instansi pemerintah Kanada.
  • McAfee mampu mengidentifikasi 72 target pelanggaran keamanan. Banyak pihak lebih dikompromikan ditemukan pada log server tapi tidak bisa diidentifikasi karena kurangnya informasi yang akurat. Dari banyak korban, lebih dari setengah yang berbasis di AS, dan 22 adalah lembaga pemerintah dari berbagai negara lainnya. RAT Shady ditargetkan total 14 negara dan negara.

·         Bukti RAT Operasi Shady pertama kali ditemukan pada tahun 2009, ketika seorang klien McAfee - seorang kontraktor militer AS - terdeteksi program dipertanyakan pada jaringan. Sebuah penyelidikan jaringan menunjukkan bahwa kontraktor militer telah disusupi oleh malware yang tidak diketahui, diklasifikasikan sebagai Alat Remote-Access atau RAT. RAT ini memungkinkan hacker akses ke jaringan kontraktor militer dan karenanya setiap informasi berharga yang tersimpan di jaringan. Akhirnya, Alperovitch terletak salah satu server Command & Control digunakan oleh para penyusup untuk mengoperasikan RAT dan segera diblokir klien McAfee berkomunikasi dengan server.
Contoh Kasus Cyber Espionage I

Contoh Kasus Cyber Espionage I


Dalam beberapa minggu terakhir ini telah ditemukan infeksi virus komputer yang telah menyerang perusahaan energi di timur tengah. Perusahaan energi di qatar (RasGas) melaporkan bahwa jaringan dan web site perusahaan ini down setelah diserang oleh virus. Tak lama kemudian Saudi Aramco Company melaporkan bahwa jaringan perusahaan tersebut kolaps karena diserang oleh virus dan mematikan sekitar 30 ribu workstation.
Cyber Espionage memang sering digunakan untuk menyerang target-target perusahaan di timur tengah dengan melibatkan malware yang diciptakan khusus untuk mencuri informasi rahasia, menghapus data, mematikan komputer perusahaan bahkan menyabotase komputer pembangkit listrik tenaga nuklir. Investigasi malware yang telah ditemukan dan di identifikasi dipercaya bahwa beberapa malware saling berkaitan. Berikut ini adalah malware-malware yang berhasil diinvestigasi yang memang ditujukan untuk menyerang timur tengah:

  1. Stuxnet Stuxnet ditemukan pada juni 2010, dan dipercaya sebagai malware pertama yang diciptakan untuk menyerang target spesifik pada system infrastruktur penting. Stuxnet diciptakan untuk mematikan centrifuse pada tempat pengayaan uranium di nathanz, Iran. Stuxnet diciptakan oleh amerika-Israel dengan kode sandi “operation olympic games” di bawah komando langsung dari George W. Bush yang memang ingin menyabotase program nuklir Iran. Malware yang rumit dan canggih ini menyebar lewat USB drive dan menyerang lubang keamanan pada sistem windows yang di sebut dengan “zero-day” vulnerabilities. Memanfaatkan dua sertifikat digital curian untuk menginfeksi Siemens Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), PLC yang digunakan untuk mengatur proses industri dalam program nukliriran.
  2. Duquworm Duqu terungkap pada september 2011, analis mengatakan source code pada duqu hampir mirip dengan source code yang dimiliki stuxnet. Namun duqu dibuat untuk tujuan yang berbeda dengan stuxnet. Duqu didesain untuk kegiatan pengintaian dan kegiatan intelejen, virus ini menyerang komputer iran tapi tidak ditujukan untuk menyerang komputer industri atau infastruktur yang penting. Duqu memanfaatkan celah keamanan “zero-day” pada kernel windows, menggunakan sertifikat digital curian, kemudian menginstal backdoor. Virus ini dapat mengetahui apa saja yang kita ketikan pada keyboard dan mengumpulkan informasi penting yang dapat digunakan untuk menyerang sistem kontrol industri. Kaspersky Lab mengatakan bahwa duqu diciptakan untuk melakukan “cyberespionage” pada program nuklir iran.
  3. Gauss Pada awal bulan agustus 2012, kaspersky lab mengumumkan ke publik telah menginvestigasi malware mata-mata yang dinamakan dengan “gauss'. Sebenarnya malware ini sudah disebarkan pada bulan september 2011 dan ditemukan pada bulan juni 2012. malware ini paling banyak ditemukan di wilayah Lebanon, israel, dan palestina. Kemudian di ikuti Amerika dan uni emirat arab. Gauss memiliki kemampuan untuk mencuri password pada browser, rekening online banking, cookies, dan melihat sistem konfigurasi. Kaspersky mengatakan AS-Israel yang telah membuat virus ini.
  4. Mahdi Trojan pencuri data Mahdi ditemukan pada februari 2012 dan baru diungkap ke public pada juli 2012. Trojan ini dipercaya sudah melakukan cyberespionage sejak desember 2011. Mahdi dapat merekam apa saja yang diketikan pada keyboard, screenshot pada komputer dan audio, mencuri file teks dan file gambar. Sebagian besar virus ini ditemukan menginfeksi komputer di wilayah iran, israel, afghanistan, uni emirat arab dan arab saudi, juga termasuk pada sistem infrastruktur penting perusahaan, pemerintahan, dan layanan finansial. Belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas pembuat virus ini. Virus ini diketahui menyebar lewat attachment yang disisipkan pada word/power point pada situs jejaring sosial.
  5. Flame Flame ditemukan pada bulan mei 2012 saat Kaspersky lab sedang melakukan investigasi komputer departemen perminyakan di Iran pada bulan april. Kaspersky memgungkapkan bahwa FLAME digunakan untuk mengumpulkan informasi intelejen sejak bulan februari 2010, namun crySyS lab di Budapest mengungkapkan virus ini sudah ada sejak 2007. Flame kebanyakan menginfeksikomputer di wilayah Iran, disusul oleh israel, sudan, syria, lebanon, arab saudi dan mesir. Flame memanfaatkan sertifikat digital tipuan dan menyebar lewat USB drive, local network atau shared printer kemudian menginstall backdoor pada komputer. Flame dapat mengetahui lalulintas jaringan dan merekam audio, screenshot, percakapan skype dan keystroke. Flame diketahui juga mencuri file PDF, text, dan file AutoCad,  dan dapat mendownload informasi dari perangkat lain via bluetooth. Flame didesain untuk melakukan kegiatan mata-mata biasa yang tidak ditujukan untuk menyerang industri. Karakteristik Flame mirip dengan stuxnet dan duqu. Menurut pengamat flame juga merupakan bagian dari proyek “Olympic Games Project”.


Kamis, 20 Maret 2014
Kasus Kejahatan Carding Yang Pernah Terjadi

Kasus Kejahatan Carding Yang Pernah Terjadi

Akhir-akhir ini kejahatan Carding atau penyalahgunaan Kartu Kredit semakin marak, termasuk di Indonesia.
Berikut ini beberapa contoh kasus Carding yang pernah terjadi di Indonesia:

• Kasus terbaru kejahatan Carding terjadi pada Maret 2013 yang lalu. Sejumlah data nasabah kartu kredit maupun debit dari berbagai bank dicuri saat bertransaksi di gerai The Body Shop Indonesia. Sumber Tempo mengatakan, data curian tersebut digunakan untuk membuat kartu duplikat yang ditransaksikan di Meksiko dan Amerika Serikat.

Data yang dicuri berasal dari berbagai bank, di antaranya Bank Mandiri dan Bank BCA. Menurut Direktur Micro and Retail Banking Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, pihaknya menemukan puluhan nasabah kartu kredit dan debit yang datanya dicuri. Adapun transaksi yang dilakukan dengan data curian ini ditaksir hingga ratusan juta rupiah.

Kejahatan kartu kredit terendus saat Bank Mandiri menemukan adanya transaksi mencurigakan. "Kartu yang biasa digunakan di Indonesia tiba-tiba dipakai untuk bertransaksi di Meksiko dan Amerika," kata Budi.
Setelah dilakukan pengecekan terhadap nasabah, ternyata kartu-kartu itu tidak pernah digunakan di sana.
( sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/03/19/087467917/Data-Kartu-Kredit-Ini-Dicuri-untuk-Belanja-di-AS)

• Pada September 2011, Polda Metro Jaya berhasil membongkar sindikat pemalsu Kartu Kredit dengan kerugian yang cukup besar Rp. 81 Miliar. Sindikat ini membobol data EDC kartu kredit dengan dua modus utama. Modus pertama, komplotan ini mencuri data dari pemilik EDC kartu kredit di pertokoan atau tempat-tempat transaksi lain. Kasus terbaru pencurian data EDC dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) 3412203 Kebayoran Lama pada 18 Agustus hingga 9 September 2011.

Komplotan ini mendatangi pompa bensin untuk menawarkan jasa perbaikan alat gesek yang rusak. Mereka datang dengan surat kuasa bank palsu. Pengelola pun menyerahkan alat gesek beserta rekening dan PIN pemilik SPBU. Aksi komplotan selanjutnya, mengajukan seluruh rekaman transaksi di SPBU ke bank untuk kemudian dicairkan. Total dana yang mereka keruk Rp 432 juta.

Sindikat ini terbongkar berkat laporan Dodi Iskandar dari Bank Danamon.
Modus lainnya, pelaku membuat transaksi pengembalian (refund) fiktif. Komplotan mencuri nomor identifikasi alat gesek kartu kredit di pertokoan. Nomor tersebut kemudian ditanamkan di alat gesek milik pelaku. Mereka seolah-olah belanja, padahal tidak. Yang terjadi selanjutnya, catatan transaksi belanja fiktif langsung terekam pada alat gesek kartu. Anggota komplotan lantas memencet opsi refund sehingga mengubah transaksi pengembalian uang, yang mengalir ke rekening mereka.

Sedikitnya lima bank uangnya terkuras dalam modus pencurian ini. Jumlah transaksinya mulai Rp 60 juta hingga Rp 70 miliar. Polisi menyita ratusan kartu tanda penduduk palsu, puluhan kartu anjungan tunai mandiri palsu, belasan EDC kartu kredit, dan ijazah palsu
(sumber: http://www.tempo.co/read/news/2011/09/30/064359105/Inilah-Pembobol-Kartu-Kredit-Senilai-Rp-81-Miliar)

• Pada April 2010, Aparat satuan Fiskal, Moneter, dan Devisa (Fismondev) Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menangkap kawanan pemalsu kartu kredit. Dari kawanan ini, polisi berhasil disita 266 kartu kredit palsu lokal dan internasional dengan total nilai Rp 2,5 miliar. Kawanan ini memiliki mesin untuk mencetak kartu kredit palsu sendiri di sebuah rumah di Jalan Kartini, Mangga Besar Jakarta Pusat. Pemalsuan kartu kredit dilakukan dengan menggandakan data kartu kredit milik orang lain.

Data tersebut kemudian dimasukkan dalam kartu kredit palsu. Penangkapan kawanan pemalsu kartu kredit ini bermula dari laporan seorang kasir di salah satu pusat perbelanjaan di Blok M yang curiga terhadap seorang pembeli yang menggunakan kartu kredit mereka yang bentuknya tidak seperti kartu kredit asli.
(sumber: http://www.tempo.co/read/news/2010/11/01/064288714/Kawanan-Pemalsu-Kartu-Kredit-Ditangkap)

• Pada Juli 2010, Direktorat Reserse Kriminal Khusus menangkap karyawan kafe Starbucks Tebet Jakarta Selatan, DDB, 26 tahun yang terbukti melakukan pembajakan kartu kredit para pelanggannya.
Pelaku mengumpulkan data kartu kredit dari konsumen tempatnya bekerja dengan cara struk diprint ulang dan dicatat kode verifikasinya. Dari situ pelaku berhasil menguasai ratusan data kartu kredit.

Data kartu kredit selanjutnya digunakan untuk membayar transaksi pembelian alat elektronik Ipod Nano dan Ipod Touch secara online di Apple Online Store Singapura hingga lebih dari 50 kali. Tersangka dijerat pasal 362 KUHP tentang penipuan dan atau pasal 378 KUHP tentang pencurian serta UU no. 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman penjara di atas lima tahun.
(sumber : http://www.tempo.co/read/news/2010/07/19/064264510/Karyawan-Starbucks-Tebet-Bajak-Ratusan-Kartu-Kredit)
Contoh Kasus ARP Spoofing

Contoh Kasus ARP Spoofing

Banyak kejahatan yang terjadi di dunia nyata maupun di dunia maya"internet” terang-terangan maupun terselubung dengan cara yang halus maupun dengan kekerasan fisik hal tersebut seharusnya menjadi peringatan buat kita semua dalam melakukan aktifitas keseharian kita agar kita terhindar dari kejahatan tersebut atau minimal kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tesebut seandainya menimpa diri kita, disini kami akan memberi informasi tentang kejahatan pembobolan kunci pengaman sistem.

Berikut ini kasus yang terjadi pembobolan kunci pengaman sistem “ARP Spoofing”
Kristina Svechinskaya Berasal dari rusia dan saat ini Kristina Svechinskaya sendiri telah tinggal di New York.Kalau di lihat dari parasnya yang cantik dan seksi pastinya setiap kita menduga bahwa Kristina Svechinskaya adalah seorang artis ataupun selebritis, namun tidak disangka dia adalah seorang ahli komputer dan sangat terkenal dengan sebutan hacker terseksi. Disebutkan bahwa Svechinskaya mampu membuat Virus Zeus Trojan, dimana virus ini dibuat bertujuan untuk membobol rekening melalui internet hingga mampu meraup lebih dari 3 Juta Dollar Amerika.
Copyright © 2014 Cyber Law vs Cyber Crime All Right Reserved